Senin, 06 Mei 2019 - 00:47:48 WIB
Menilik Puasa dan Perjuangan Para Ulama DI Sumatra
Diposting oleh :
Kategori: PENDIDIKAN SEJARAH - Dibaca: 346602 kali

 

Historia Vitae Magistra | Setelah PP Muhammadiyah melayangkan maklumat tentang penetapan awal Ramadhan, disusul Kementrian Agama beberapa waktu terakhir mengumumkan hasil sidang isbat penentuan 1 Ramadhan 1440 Hijriah, dapat dipastikan Senin, (6/5/2019) umat Islam di Indonesia akan mulai menjalankan ibadah fardhunya selama satu bulan kedepan.

Setiap tahun selama satu bulan, umat muslim di tanah air memang terbiasa menjalankan puasa di bulan Suci Ramadhan. Lalu pertanyaan yang sekarang muncul adalah bagaimana hari-hari berpuasa selama dalam cengkraman penjajah? Tentunya kita memiliki gambaran adanya perbebedaan puasa di era merdeka dan era penjajahan.

Menelusuri jejak itu, seperti dilansir jejakislam.net menjelang bulan Suci Ramadhan para ulama di Aceh menggelorakan semangat perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda I.

“Jelang bulan suci Ramadhan, ulama Aceh menggelar rapat umum di pekarangan Masjid Raya Baiturrahman. Dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, para ulama menegaskan, puasa tidak boleh menghalangi seseorang untuk berjuang. Karena itu, sambil berpuasa berjuanglah, dan sambil berjuang berpuasalah.”

Seruan itu disampaikan para ulama di mimbar rapat umum tersebut. Pesannya untuk menyampaikan pencerahan mengenai kewajiban berpuasa di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda I.

Seruan juga datang dari Residen Aceh, isinya tidak jauh berbeda supaya umat Islam di Aceh senantiasa bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang datang akibat arogansi Belanda.

“Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan di mana saja,” tulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, dalam bukunya Kronik revolusi Indonesia jilid III (1947), Jakarta: KPG, 1999.

Pada lokasi yang berbeda di pulau Sumatra, perlawan umat Islam juga terjadi terhadap Agresi Mileter Belanda I. Konon, pertempuran ini terjadi setelah kalangan umat Islam melaksanakan sahur.

 ”Di Sumatera Selatan, Agresi militer Belanda I dilakukan tepat di hari ketiga bulan puasa. Aksi itu dimulai setelah umat Islam baru saja selesai melakukan sahur sekitar pukul 04.00 pagi.” Dinas Sejarah, Kodam II Bukit Barisan, Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera 1945-1950, Medan: 1984.

Bisa dibayangkan, betapa jauh perbedaan suasana ibadah puasa di bulan Suci Ramadhan saat ini dengan masa ketika penjajahan masih bercokol di republik ini. Refleksinya tidak berlebihan jika ibadah puasa ini kita isi dengan penuh gembira, tanpa keluh kesah “dahaga, haus dan lapar”, karena beban perang angkat senjata untuk sementara lepas dari kewajiban kita. (Nas).




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)